Artikle/Makalah Masjid kuno Bayan Beleq

STUDI TEKNIS

MASJID KUNO BAYAN BELEQ, LOMBOK BARAT


1. Lokasi Situs

Bangunan Masjid Kuno Bayan Beleq terletak di desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Barat. Dinamakan demikian sesuai dengan lokasi keberadaannya, yaitu dusun Bayan Beleq (bahasa sasak : beleq = besar). Secara geografis, desa Bayan terletak pada 8º 15’ LS dan 116º 26’ BT, dengan ketinggian 278 meter di atas permukaan laut.

Lokasi bangunan masjid kuno berada dipinggir jalan raya menuju utara pulau Lombok, mudah dijangkau dengan segala jenis kendaraan dari kota Mataram berjarak 80 km. Desa Bayan adalah kota kecamatan yang terletak di ujung Utara pulau Lombok.

2. Kondisi Lingkungan

Desa Bayan dengan luas wilayah 8.700 ha merupakan daerah perbukitan dengan latar kaki gunung Rinjani disebelah selatan. Alam disekitar desa berupa lahan persawahan, ladang atau tegalan, dan hutan di bagian selatan. Tanah disekitar wilayah desa pada dasarnya subur, namun karena jangkauan irigasi yang belum merata jadi sebagian dari wilayah desa pada musim kemarau sangat kering.

Kondisi alam yang membelakangi gunung dengan hutan lindungnya, menghadap ke laut lepas, serta didukung adanya sumber air yang relatif memadai merupakan gambaran wilayah yang ideal untuk dikembangkan oleh karena itu Desa Bayan Beleq pun berkembang menjadi daerah padat penduduk terbesar di pulau Lombok bagian Utara, dan dikenal dengan air terjun Senaru.

3. Data Peninggalan Arkeologis

A. Masjid

Masjid Bayan Beleq terletak diatas sebidang tanah dengan topografi yang tidak rata. Bangunan intinya, terletak pada bagian permukaan tanah yang paling tinggi. Didekat masjid terdapat beberapa buah makam para tokoh penyebar ajaran agama Islam di Bayan.

Bentuk bangunan, dan luasnya menjadi ciri khas dari Masjid Bayan Beleq adalah :

1. Bentuk denah bangunan masjid bujur sangkar, panjang sisinya 8,90 m. Tiang utamanya (Saka Guru) ada 4 buah terbuat dari kayu nangka, berbentuk bulat (silinder) dengan garis tengah 23 cm, tinggi 4,60 m. Keempat tiang berasal dari empat desa (dusun) yaitu :

a). Tiang sebelah Tenggara, dari desa Sagang Sembilok.

b). Tiang sebelah Timur laut, dari desa Tereng.

c). Tiang sebelah Barat laut, dari desa Senaru,

d). Tiang sebelah Barat Daya, dari desa Semokon.

Menurut keterangan para Pemangku Adat, tiang utama ini diperuntukkan bagi para Pemangku Masjid yaitu :

a). Tiang sebelah tenggara untuk Khatib

b). Tiang sebelah timur laut untuk Lebai

c). Tiang sebelah barat laut untuk Mangku Bayan Timur

d). Tiang sebelah barat daya untuk Penghulu.

2. Tiang keliling berjumlah 28 buah, termasuk dua buah tiang Mihrab. Tinggi tiang keliling rata-rata 1,25 m, dan tiang Mihrab 80 cm. Tiang-tiang ini selain berfungsi sebagai penahan atap pertama, juga berfungsi sebagai tempat menempelkan dinding terbuat dari bambu yang dibelah dengan cara ditumbuk, disebut “pagar rancak”. Khusus dinding bagian Mihrab terbuat dari papan kayu suren, berjumlah 18 bilah. Perbedaan bahan dinding ini bermakna simbolis, bahwa tempat kedudukan “imam” (pemimpin) tidak sama dengan “makmum” (pengikut atau rakyat). Perbedaan tempat menunjukkan perbedaan kedudukannya.

3. Atap berbentuk tumpang, terbuat dari bambu (disebut “santek”). Pada bagian puncaknya terdapat hiasan “mahkota”.

4. Memperhatikan ukuran denah, tinggi tiang utama dan tiang-tiang keliling, kita dapat membayangkan bentuk bangunan itu. Ukuran tinggi dinding bangunan yang hanya 125 cm, jauh dibawah ukuran tinggi rata-rata manusia normal. Dengan demikian, setiap orang yang hendak masuk ke dalam bangunan ini (masjid) tidak mungkin berjalan dengan langkah tegap, tetap harus menunduk. Hal ini pun mengandung makna penghormatan.

5. Pada bagian “blandar” atas terdapat sebuah “jait” yaitu tempat untuk manaruh hiasan-hiasan terbuat dari kayu berbentuk ikan dan burung. Ikan ialah binatang air, melambangkan dunia bawah maksudnya kehidupan duniawi. Sedangkan burung sebagai binatang yang terbang di udara, melambangkan dunia “atas” maksudnya kehidupan di alam sesudah mati (akhirat). Makna perlambang yang ada di balik itu ialah, manusia hendaknya selalu menjaga keseimbangan antara tujuan hidup di dunia akhirat.

6. Pada bagian atas mimbar, terdapat hiasan berbentuk naga. Pada bagian “badan naga” terdapat hiasan (gambar) tiga buah binatang, masing-masing bersegi 12, 8, dan 7. Hiasan ini melambangkan jumlah bilangan bulan (12), windu (8), dan banyaknya hari (7). Disamping itu juga terdapat hiasan berbentuk pohon, ayam, telur, dan rusa. Di dalam seni rupa Islam pada umumnya, “hamper” tidak pernah ditemukan motif atau ragam hias makhluk hidup yang digambarkan secara jelas. Adanya ragam hias dengan motif makhluk hidup pada mimbar masjid di Bayan Beleq menunjukkan betapa kuatnya pengaruh tradisi pra Islam masih mewarnainya.


B. Makam

Disamping bangunan masjid, di kompleks ini juga dijumpai enam buah makam yang diberi cungkup sederhana. Makam-makam dikeramatkan oleh penduduk setempat karena ketokohan dari orang yang dimakamkannya. Keenam buah makam itu ialah :

  1. Makam Plawangan, terletak disebelah selatan masjid, berukuran 3,60 m x 2, 70 m yang dimakamkan di sini ialah orang Bayan asli yang pertama sekali masuk agama Islam.
  2. Makam Karangsalah, terletak disebelah timur laut masjid, berukuran 3,80 m x 2, 60 m.
  3. Makam Anyar, terletak di sebelah barat laut masjid, berukuran 7,60 m x 6 meter.
  4. Makam Reak, terletak disebelah selatan masjid, berukuran 8,40 m x 6, 20 meter, yang dimakamkan di sini ialah orang yang pertama kali menyebarkan agama Islam di Bayan.
  5. Makam Titi Mas Penghulu, terletak disebelah utara masjid, berukuran 3,9 meter x 2,65 meter merupakan makam tokoh penyebar agama Islam yang berikutnya.
  6. Makam Sesait, terletak di sebelah utara masjid berukuran 10,20 m x 3,80 meter.

4. Tinjauan Sejarah Bayan Beleq

Agama Islam masuk di pulau Lombok pada awal abad ke-16, dilihat dari bunyi ‘dua kalimat Syahadat’ kitab fiqih, suluk, dan lontar yang menjadi pedoman pemeluk agama Islam (pada masa awal) di Lombok, jelas bahwa agama Islam datang di Pulau Lombok dari Pulau Jawa. Setelah raja Lombok (yang berkedudukan di Teluk Lombok menerima Islam sebagai agama kerajaan, dari Lombok agama Islam dikembangkan ke seluruh wilayah kerajaan tetangga, seperti Langko Pejanggik, Parwa, Sarwadadi, Bayan, Sokong, dan Sasak.

Sunan Pengging, pengikut Sunan Kalijaga, datang di Lombok pada tahun 1640 untuk menyiarkan agama Islam (sufi). Ia kawin dengan putera dari kerajaan Parwa sehingga menimbulkan kekecewaan raja Goa. Selanjutnya, raja Goa menduduki Lombok pada tahun 1640. Sunan Pengging terkenal juga dengan nama Pangeran Mangkubumi ke Bayan. Di Bayan ia mengembangkan ajarannya, yang kelak menjadi pusat kekuatan suatu aliran yang disebut “Waktu Telu”.

Bagi masyarakat pulau Lombok pada umumnya, Bayan dikenal sebagai sebuah ‘desa tua’ dalam arti kebudayaannya. Nama Bayan identik dengan sosok desa tradisional, adat istiadat, dan norma-norma budaya lama yang masih mewarnai pola kehidupan masyarakatnya.

Masjid kuno Bayan Beleq adalah peninggalan terpenting dan terbesar yang dapat dijadikan sebagai bukti dan bahan kajian tentang masa awal berkembangnya ajaran agama Islam di Pulau Lombok pada umumnya, dan Bayan khususnya.

Bila kita perhatikan bentuk, ukuran, dan gaya arsitekturnya, terdapat persamaan yang sangat mendasar dengan bangunan-bangunan masjid kuno yang terdapat di Rembitan dan Gunung Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Persamaan ini dapat menjadi petunjuk bahwa ketiga bangunan masjid itu berasal dari periode yang sama.

Bentuk dasar bangunan bujur sangkar, konstruksi atap tumpang dengan hiasan puncak berupa mahkota yang merupakan ciri khas dari bangunan masjid periode awal berkembangnya agama Islam di Indonesia. Letak bangunan berada di tempat yang relatif tinggi, tata letaknya berdampingan dengan makam tokoh-tokoh penyebar agama Islam di Bayan. Kesemuanya itu menunjukkan adanya kesamaan konsepsi pemikiran masyarakat pendukung kebudayaan itu (Islam di Bayan) dengan masyarakat pra Islam. Sikap konsisten masyarakat Bayan yang selalu berusaha untuk tidak mengubah bentuk maupun bahan bangunan yang digunakan (dengan alasan kepercayaan) menunjukkan bahwa pengaruh kebudayaan lama pada masyarakat Bayan sangat kuat.

Menurut Pemangku Adat Bayan, bahwa bahan atap bangunan masjid diambil dari tempat khusus, di desa Senaru. Bila atapnya rusak atau hancur, perbaikannya harus pada tahun Alip yang datangnya sewindu (8 tahun) sekali. Pembebanan biayanya secara tardisional telah terbagi kepada masyarakat desa di sekitarnya yaitu :

a). atap sebelah utara, desa Anyar

b). atap sebelah timur, desa Loloan

c). atap sebelah selatan, desa Bayan

d) atap sebelah barat, desa Sukasada

pelaksanaan perbaikan dilakukan secara gotong royong, dipimpin oleh para Pemangku Adatnya.

5. Tinjauan aspek sosial dan budaya masyarakat Bayan

Masyarakat tradisional Bayan, pada masa lalu dikenal sebagai penganut agama Islam “Waktu Telu”. Walaupun keberadaan ajaran ini secara formal sudah tidak ada, namun sisa-sisa kepercayaan lama masih dapat dilihat pada penyelenggaraan berbagai upacara tradisi, misalnya upacara ‘sedekah urip’, upacara minta hujan, dan sebagainya.

Dalam berbagai aspek, penganut kepercayaan “Islam Waktu Telu” di Bayan memiliki pandangan yang “serba tiga”, misalnya :

a) Dalam kehidupan bermasyarakat, sumber hukum yang dianutnya terbentuk atas tiga prinsip, yaitu : agama, adat dan pemerintahan.

b) Sistem organisasi kemasyarakatan, masyarakat Bayan mengenal tiga lembaga, yaitu :

1. Pemangku Adat, yang menjadi pimpinan tertinggi di desa, biasanya dijabat secara turun temurun.

2. Pembantu Pemangku, bertindak menangani urusan pemerintahan

3. Penghulu, dijabat oleh Kiyai, bertugas menangani urusan keagamaan.

Dari penuturan para Pemangku Adat diperoleh keterangan bahwa bilangan tiga merupakan pencerminan dari pemahaman terhadap asal usul terjadinya manusia. Manusia lahir di atas dunia atas kehendak Tuhan dengan perantaranya ayah dan ibu. Inti ajaran “ Waktu Telu “ merupakan pengejawantahan ajaran budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Unsur ajaran “Islam”nya tampak pada adanya sejumlah perintah dan larangan, seperti :

a). tidak boleh melawan orang tua

b). harus menghormati saudara tua

c). tidak boleh bertengkar

d). tidak boleh membunuh

Bagi kelompok masyarakat, yang terpenting adalah sikap hidupnya di dunia manusia harus berbuat baik terhadap sesamanya. Perkara pelaksanaan syariat agama (fiqih), cukup melaksanakan yang menonjol (pokok-pokok) saja, misalnya ; menyelenggarakan upacara peringatan Maulud Nabi Muhammad S.A.W., sholat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha atau “ ngaji makam “ pada tahun Alip.

Dari uraian-uraian tersebut kita mendapatkan gambaran tentang “rekonstruksi kondisi sosial budaya’ masyarakat tradisional Bayan, sebagai masyarakat pendukung keberadaan bangunan cagar budaya masjid Bayan Beleq.

6. Status Bangunan Purbakala

Bangunan masjid Bayan Beleq merupakan bangunan yang bernilai sejarah dan kepurbakalaan, berasal dari masa awal berkembangnya agama Islam di Lombok. Ajaran Islam yang berlaku bagi kelompok masyarakat pengguna bangunan masjid kuno ini dikenal dengan nama “ Waktu Telu “. Keberadaan kelompok masyarakat itu secara formal terhapus sejak tahun 1960, pada masa penumpasan sisa-sisa G 30 S/PKI. Kondisi yang terjadi pada waktu itu, masyarakat beramai-ramai meninggalkan berbagai ajaran kepercayaan yang dinilai tidak sesuai dengan ajaran agama yang secara resmi diakui oleh pemerintah.

Dengan demikian, praktis bangunan masjid kuno Bayan Beleq ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya. Jadilah bangunan tersebut sebuah “ monument mati “ atau ‘ dead monument ‘.

DATA KERUSAKAN DAN KETERAWATAN

1. Data Kerusakan

Dari hasil survei yang dilakukan di lapangan, kerusakan dan pelapukan terhadap Masjid Kuno bayan Beleq dapat dibedakan menjadi 4 bagian yaitu :

a. Kerusakan Mekanis, yaitu jenis kerusakan benda cagar budaya yang disebabkan oleh adanya gaya dinamis dan gaya statis seperti gempa bumi, tanah longsor dan sebagainya. Akibat dari kerusakan ini adalah retak, pecah, gempil, miring, renggang dan lainnya. Kerusakan mekanis yang terjadi pada Masjid Kuno Bayan Beleq sekitar 5 %.

b. Kerusakan fisis yaitu jenis kerusakan pada benda cagar budaya yang disebabkan oleh adanya faktor-faktor fisis seperti suhu, angin, curah hujan dan lainnya.,kerusakan ini terjadi sekitar 10-20 %.

c. Pelapukan chemis adalah pelapukan yang terjadi pada benda cagar budaya sebagai akibat dari proses dan reaksi kimiawi, antara lain berupa pelapukan. Dimana proses ini lebih banyak disebabkan oleh air hujan maupun adanya kafilarisasi air tanah, pelapukan ini terjadi berkisar antara 10-20 %.

d. Pelapukan Biotis adalah pelapukan yang terjadi pada benda cagar budaya yang disebabkan oleh adanya jasad renik dan serangan binatang seperti rayap dan serangga, pelapukan ini berkisar antara 20-30 %.

2. Data Keterawatan

Kondisi fisik bangunan Masjid Kuno Bayan Beleq telah mengalami proses degradasi dalam bentuk kerusakan dan pelapukan. Kerusakan disebabkan oleh faktor mekanis yaitu oleh gaya yang bersifat dinamis maupun statis. Sedangkan pelapukan disebabkan oleh faktor biotis yaitu jasad renik dengan serangan binatang seperti rayap dan serangga.

3. Rencana Penanganan

A. Konservasi komponen bangunan,

Dari segi teknis bangunan Masjid Kuno Bayan Beleq terdiri dari bahan : batu kali, kayu, bambu, pohon pinang dan ijuk. Sebagian bahan bangunan terutama dari bambu, kayu, pohon pinang dan ijuk telah mengalami kerusakan dan pelapukan. Keadaan seperti ini perlu ditangani melalui kegiatan konservasi baik dengan cara tradisional maupun dengan cara modern agar kelestarian benda cagar budaya tersebut lebih terjamin. Pada prinsipnya konservasi yang akan dilakukan meliputi :

1. Pembersihan secara tradisional

2. Pembersihan secara kimiawi

3. Perbaikan

4. Konsolidasi

5. Pembersihan lapisan pelindung

Dalam hubungannya dengan struktur bangunan, untuk mengetahui dari kerusakan dan pelapukan yang disebabkan oleh factor air terutama kafilarisasi air tanah, maka dilakukan pemasangan umpak-umpak pada semua tiang bangunan dan pemasangan lapisan kedap air dengan bahan araldite-tar dan berfungsi juga untuk menanggulangi dari serangan rayap.

Tindakan konservasi meliputi :

1. Pembersihan mekanis kering

Pembersihan mekanis kering dilakukan dengan menggunakan sikat ijuk, sikat gigi, kuas untuk membersihkan akumulasi debu dan kotoran-kotoran lainnya pada permukaan bangunan.

2. Pembersihan mekanis basah

Pembersihan mekanis basah dilakukan dengan cara :

a. Tradisional, yaitu dengan menggunakan air rendaman daun tembakau, cengkeh dan pelepah pisang.

b. Modern, yaitu dengan menggunakan alkohol, acetone, tolvol dan ethyl acetate.

3. Perbaikan

Perbaikan dilakukan sesuai dengan kondisi kerusakanya yaitu pengisian pada bagian yang retak dan bekas serangan rayap dan serangga dengan menggunakan epoxy resin dicampur dengan phenol microbalon atau serbuk gergaji, serta injeksi pada bagian yang retak dengan bahan insektisida dicampur minyak tanah.

4. Konsolidasi

Konsolidasi dilakukan pada bagian-bagian kayu yang rapuh dengan bahan paraloid B-72 dengan pelarut ethyl acetate dengan konsentrasi 3% aplikasi bahan dilakukan dengan cara pengolesan dan penyemprotan.

5. Pemberian lapisan pelindung

Tindakan ini dilakukan pada tahap akhir dengan maksud untuk menanggulangi adanya pengaruh kelembaban secara langsung pada kayu tersebut. Bahan yang digunakan adalah larutan thermoplastic resin jenis paraloid B-72 dengan pelarut ethyl acetate dengan kadar

1 %.

B. Konservasi Struktur Bangunan

Kegiatan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kerusakan dan pelapukan yang disebabkan oleh adanya kafilarisasi air tanah terutama yang mengalami pilar-pilar bangunan tersebut. Untuk itu perlu pemasangan lapisan kedap air dengan menggunakan bahan araldite-tar, dan akan lebih baik lagi bila lantai dibawahnya di beton dan dipasang lapisan kedap air. Dengan demikian kerusakan-kerusakan yang disebabkan kafilarisasi air tanah dapat dikendalikan semaksimal mungkin.


C. Konservasi Lingkungan

Bangunan Masjid Kuno Bayan Beleq berada pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan. Apabila musim hujan kondisi disekeliling dan bagian dalam bangunan bisa kena rembesan air hujan dan pohon-pohon besar disekitar bisa menimpa bangunan, maka dari itu penataan lingkungan sangat perlu dilakukan demi kelestarian dan keamanan bangunan tersebut. Disamping itu juga penanaman pohon di sekitar bangunan dan yang ditanam hendaknya mempunyai fungsi ganda yakni selain menahan angin, juga menambah keindahan serta fungsi sosial lainnya.

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Masjid Kuno Bayan Beleq merupakan peninggalan terpenting dan terbesar yang dapat dijadikan bukti dan bahan kajian masa awal perkembangan ajaran agama Islam di Pulau Lombok. Bentuk dasar bangunan bujur sangkar, konstruksi atap tumpang dengan hiasan puncak berupa mahkota yang merupakan ciri khas dari bangunan masjid periode awal berkembangnya agama Islam di Indonesia. Masjid tersebut memiliki suatu keunikan apabila mengalami kerusakan atau hancur harus dilakukan perbaikan pada tahun Alip yang datangnya sewindu (8 tahun) sekali.

4.2 Saran-saran

Pelestarian suatu bangunan bersejarah harus tetap dijaga dan dirawat baik secara fisik bangunan maupun lingkungan pendukung disekitarnya. Semoga laporan singkat tentang Masjid Bayan Beleq ini dapat bermanfaat dikemudian hari.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More